Oleh Datuk Samudera Nuswantara, pengamat Geostrategi & Maritim
“Membuat hidup dan membiarkan mati adalah kekuasaan modern.” (Michel Foucault,)
Pada 17 Maret 2026, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengucapkan kalimat yang seketika mengguncang pasar global dan membuat para pemimpin dunia berkeringat dingin: “Situasi Selat Hormuz tidak akan kembali ke status sebelum perang.”
Pernyataan singkat tersebut membuat Iran mengubah perang regional yang sedang berlangsung menjadi senjata biopolitik berskala global. Pernyataan itu bukan semata sebagai ancaman kepada musuh-musuhnya di medan perang. Kelangsungan hidup ekonomi dunia pun terancam. Maklum, miliaran orang bergantung pada aliran minyak yang melewati selat sempit ini setiap hari. Seperlima pasokan minyak dunia melewati selat yang merupakan urat nadi pelayaran komoditas energi dunia.
Selat Hormuz, Nadi Dunia yang Terjepit Biopolitik
Inilah momen ketika pemikiran Michel Foucault menjadi begitu relevan sehingga rasanya seperti ditulis untuk situasi tepat ini. Filsuf Prancis abad ke-20 mengkaji hubungan antara kekuasaan dan tubuh manusia. Foucault memperkenalkan konsep biopower atau kekuasaan biologis. Dia merujuk pada bentuk dominasi yang tidak lagi puas dengan hak klasik untuk menghukum atau membunuh individu secara spektakuler seperti zaman kerajaan kuno.

Kemampuan modern jauh lebih halus namun lebih menakutkan, yakni membuat hidup dan membiarkan mati. Penerapan pengaturan populasi massal dengan mengontrol kesehatan, kelahiran, kematian, dan produktivitas mereka sebagai sumber daya negara.
Bagi Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau yang membentang di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, ancaman yang terucap dari Teheran itu bukanlah abstraksi teoretis. Ini menyangkut denyut nadi ekonomi kita yang terancam putus.
Jutaan tenaga kerja Indonesia di negara-negara Teluk kini dalam jangkauan rudal. Ini pertanyaan mendasar tentang bagaimana suatu negara besar seharusnya menavigasi dunia manakala perang telah berubah wujud. Perang menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks dari pertempuran tentara melawan tentara.
Biopolitik Beraksi, Perang Jadi Pengaturan Populasi
Untuk memahami apa yang terjadi di Timur Tengah pada Maret 2026 itu, kita perlu menggunakan lensa Foucault guna mencermati cara kekuasaan modern beroperasi di balik kabut asap dan kilatan rudal. Foucault memaparkan dua wajah kekuasaan yang saling berkelindan.
Pertama, sovereign power atau kekuasaan berdaulat dalam pengertian klasik. Yaitu, hak penguasa mengambil nyawa atau memberi ampun, untuk menghukum mati atau membiarkan hidup. Simbolnya ialah pedang yang bergantung di atas kepala rakyat.
Kedua, biopower, yaitu teknik-teknik administratif, ilmiah, dan politis yang muncul sejak abad ke-18. Tujuannya untuk mengatur tubuh dan populasi sebagai sumber daya biologis yang harus dioptimalkan, dilindungi, dan dieksploitasi.
Yang membuat situasi Maret 2026 begitu mengerikan dan khas bagi era modern adalah bagaimana kedua bentuk kekuasaan ini tidak lagi beroperasi secara terpisah. Kedua-duanya menyatu dalam praktik yang Foucault sebut sebagai nekropolitik. Yakni, politik kematian yang menggunakan seluruh aparatus biopolitik untuk memutuskan siapa yang layak hidup dan siapa yang harus mati.
Nekropolitik Iran: Pemimpin Jadi Target Sistematis
Perang yang meletus pada 28 Februari 2026 ketika serangan Amerika Serikat dan Israel menggempur fasilitas-fasilitas di Iran bukan pertempuran konvensional. Inilah operasi nekropolitik (politik kematian) berskala masif guna melumpuhkan kemampuan hidup suatu bangsa. Caranya jauh lebih fundamental dari sekadar menghancurkan tank atau pesawat. Dalam dua pekan pertama saja, dunia menyaksikan bagaimana kekuasaan modern benar-benar beroperasi ketika batas-batas moral dan hukum jadi longgar atas nama keamanan.
Puncak strategi ini terlihat dalam upaya sistematis menghapuskan kemampuan Iran memimpin dirinya sendiri melalui operasi “decapitation” (pemenggalan kepala). Pemimpin negara yang berdaulat Ayatollah Ali Khamenei gugur. Penggantinya, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilaporkan terluka parah atau bahkan lumpuh akibat serangan awal. Namun, Iran yang seharusnya punya insentif kuat menampilkan bukti sebaliknya guna meyakinkan rakyatnya bahwa pemimpin mereka masih kuat, justru tidak melakukannya. Ini menciptakan kekosongan informasi yang lebih menakutkan daripada konfirmasi kematian.
Pada rantai komando Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Komandan Gholamreza Soleimani dan wakilnya gugur. Begitu pula Kepala Intelijen Basij Esmail Ahmadi. Di sisi lain, sejak melancarkan perang pada 2 Maret, Israel menghancurkan lebih dari 2.000 target Hezbollah di Lebanon, termasuk lebih dari 570 lebih pejuang, 120 markas, dan 100 gudang senjata.
Operasi decapitation perang modern menggunakan biopolitik. Operasi ini bukan hanya membunuh prajurit yang bisa diganti. Lebih dari itu, menghancurkan saraf pusat kemampuan suatu populasi untuk mengorganisasi diri membuat keputusan kolektif dan mempertahankan struktur hidup bersama. Israel dan AS tidak sekadar berusaha menang di medan perang. Negara zionis dan sekutunya itu berusaha membuat Iran tidak bisa hidup sebagai negara yang berdaulat.
Selat Hormuz Menjelma Jadi Alat Biopolitik Global
Yang paling menakutkan dan menggambarkan transformasi perang modern ialah bahwa Iran merespons dengan cara yang sama-sama biopolitik. Ketika Ketua Parlemen Ghalibaf mengancam mengubah Selat Hormuz secara permanen, dia tidak berbicara sebagai komandan militer yang akan menghancurkan kapal musuh dengan rudal. Dia berbicara sebagai administrator kekuasaan yang akan mengatur sirkulasi kehidupan global. Selat Hormuz pun berubah fungsi dari jalur pelayaran perdagangan global menjadi jantung biopolitik dunia modern. Jalur sempit bagi 60% ekspor minyak itu memompakan darah energi ke seluruh tubuh ekonomi global.
Iran pun mempertimbangkan mengenakan biaya pada setiap kapal yang melintas, menciptakan “koridor aman” di bawah kendali IRGC. Iran juga menjanjikan “rezim baru” untuk selat tersebut. Foucault dalam buku empat jilidnya, The History of Sexuality, mengenalinya sebagai bentuk paling murni dari kekuasaan atas sirkulasi. Dalam hasil studinya itu, dia menelusuri tentang karantina, epidemi, dan pengendalian populasi modern. Sebagaimana dulu kolonialis mengontrol pergerakan orang dan barang untuk mencegah penyebaran penyakit, Iran kini mengontrol geografi guna mengatur kehidupan ekonomi dunia. Itu membuat miliaran orang dari petani di India hingga sopir truk di Amerika, dari pekerja pabrik di China hingga ibu rumah tangga di Indonesia menjadi “sandera” keputusan politik di Teluk Persia itu. (BERSAMBUNG)











