JAKARTA, Edukasiindonesia.id – Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan Tower Bersama Group (TBIG) berkolaborasi menggelar Anugerah Jurnalistik 2026.
Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari mengatakan lomba karya jurnalistik tersebut terbuka khusus bagi alumni Journalism Fellowship on Corporate Social Responsibility (CSR) atau JFC.
“Anugerah jurnalistik ini kami adakan untuk memotivasi agar para alumni JFC terus menghasilkan karya-karya berkualitas. Ini sekaligus dapat memupuk profesionalitas wartawan sebagaimana kami tanamkan dalam kelas JFC,” kata Nurcholis yang juga asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Senin (17/8/2026).
Dia menjabarkan tema Anugerah Jurnalistik TBIG 2026 ialah Menara untuk Negeri: Membangun Nilai Bersama (Shared Value) Melalui Kontribusi Sosial dan Lingkungan. Untuk edisi perdana, kategori lomba karya jurnalistik ada dua, yakni berita tulis dan foto jurnalistik. Kedua kategori tersebut berlaku untuk media cetak & situs berita (siber) atau online.
“Para aluni JFC batch 1-3 dapat menyerahkan kepada panitia karya-karya jurnalistik mereka publikasikan pada periode Januari-Oktober 2026. Adapun pendaftaran dan pengiriman karya berlangsung 1-31 Oktober 2026.”
Sekilas tentang GWPP
GWPP lahir pada 2021 ketika pandemi Covid-19 merebak tidak hanya di Indonesia melainkan juga seantero dunia. GWPP berdiri di atas fondasi kesadaran tentang pentingnya pendidikan, baik bagi wartawan maupun masyarakat pada umumnya. Faktanya, kemajuan suatu komunitas atau negara-bangsa berbanding lurus dengan tingkat pendidikan.

Di atas fondasi itulah kemudian GWPP mengembangkan pendidikan dan latihan jurnalisitik bagi kalangan wartawan dan kreator konten. Semula fokusnya ialah bidang pendidikan.
“Berkolaborasi dengan Mas Salman Subakat, CEO PT Paragon Technology and Innovation, GWPP mengadakan Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) batch 1-4. Masing-masing angkatan berdurasi tiga bulan secara daring,” ungkap Nurcholis yang juga Ahli Pers Dewan Pers.
Misi FJP, lanjut Nurcholis, ialah mengarusutamakan isu-isu pendidikan dalam peliputan dan pemberitaan media pers. Selain itu, GWPP mengemban misi meningkatkan kualitas dan profesionalitas wartawan yang berkapasitas, berkapabilitas, dan berintegritas.
“Kami ingin menunjukkan bahwa diklat bagi wartawan tidak menghalangi produktivitas untuk tetap terus berkarya. Selain itu, isu-isu pendidikan sangat layak masuk dalam arus utama liputan dan pemberitan media,” ujar Nurcholis.
Sekilas tentang Journalism Fellowship on CSR
Sukses menggelar FJP 1-4, GWPP kemudian mengembangkan program diklatnya dengan cakupan yang lebih luas. Lahirlah ide Journalisme Fellowship on CSR (JFC), dengan bidang kajian yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, budaya, dan lingkungan. Bak gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba. Chief of Business Support TBIG Lie Si An menyambut baik ide tersebut.

“Berkolaborasi dengan TBIG, GWPP akhirnya menggelar JFC yang telah terselanggara tiga batch atau angkatan. Pesertanya wartawan dari Papua hingga Sumatera. Para peserta tidak hanya mendapatkan diklat jurnalistik dan CSR. Lebih dari itu, mereka mendapatkan pengalaman lapangan dan etos kerja. Yakni, bagaimana tetap produktif berkarya sembari aktif ikut diklat berdurasi panjang dan cukup melelahkan,” jelas Nurcholis.
Melalui diklat JFC, GWPP berupaya membangkitkan kesadaran sekaligus bukti. Yakni, bahwa kegiatan CSR layak menjadi perhatian dalam porsi liputan dan pemberitaan arus utama media pers.
“Tentu saja, misi utamanya ialah meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan integritas wartawan dalam menghasilkan karya atau konten jurnalistik berkualitas.”
Sekilas tentang CSR
Corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) bagian penting dari operasi suatu perusahaan. Kegiatan ini bukan sekadar upaya korporasi menunjukkan kepatuhan terhadap regulasi hukum dan aturan. Lebih dari itu, bagi perusahaan, kegiatan CSR merupakan investasi sosial guna memberikan gambaran positif tentang korporasi. CSR juga sebagai bagian dari strategi bisnis guna mendapatkan endorsement publik atas operasi perusahaan sekaligus manajemen risiko guna meredam dan menghindari konflik sosial.
Adapun bagi publik, kegiatan CSR sebagai upaya menebar manfaat untuk pemberdayaan, pengembangan keterampilan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kebermanfaatan itu mencakup berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Selain itu, juga kebermanfaatan bagi lingkungan, baik sosial dan budaya maupun alam.
“Aksi CSR pada esensinya berorientasi pada publik. Pers juga bekerja untuk kepentingan publik. Publik dalam arti luas sebagai pemangku kepentingan (stake holders) atau khalayak sasaran (target audiences),” kata Nurcholis.
Hal itu selaras juga dengan filosofi bisnis berkelanjutan yang bertumpu pada tiga aspek utama, yakni people, planet, dan profit. Dalam kegiatan CSR, konsep Triple P tersebut umumnya diaplikasikan dalam berbagai kegiatan yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni kesehatan, pendidikan, sosial-budaya, dan lingkungan.
TBIG mengaplikasikan kegiatan CSR dalam empat kluster. Pertama, kluster kesehatan Bangun Sehat Bersama. Kedua, kluster pendidikan Bangun Cerdas Bersama. Ketiga, kluster Bangun Budaya Bersama. Keempat, kluster lingkungan Bangun Hijau Bersama. “Kami sangat serius mengembangkan empat kluster CSR itu di atas fondasi kesadaran filosofis, yakni Bersama untuk Indonesia. Kami ingin membangun nilai bersama melalui kontribusi sosial dan lingkungan untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Chief of Business Support TBIG Lie Si An. (Nic)











