Pulang Basamo, Desa Konoha Lembah Harau Nan Memukau (3)

  • Share
Lembah Harau - Arsyam Effendi

KONOHA ada di Lembah Harau, Sumatera Barat (Sumbar). Benarkah?

Dari Bukittingi, lewat tengah hari, rombongan Pulang Basmo Aqua Dwipayana bergerak menuju Payakumbuh, Minggu (14/9/2025) siang. Rumah Makan Pongek “OR” Situjuah sasarannya. Setelah puas memanjakan lidah dengan aneka makanan-minuman lezat, rombongan bertolak ke Lembah Harau, Kabupaten 50 Kota.

Jarak Kota Payakumbuh-Lembah Harau sekira 15 km. Dari Bukittinggi, lembah 270,5 hektare itu berjarak 50 km atau 1,5 jam perjalanan. Lembah Harau bagai benteng bertembok raksasa tebing menjulang 100–500 meter.

Bagi penyuka komik Naruto, Lembah Harau dapat membangkitkan imajinasi tentang Desa Konoha. Banyak yang mengasosiasikannya dengan Hokage Iwa atau Tebing Hokage di Desa Konoha.

Rombongan Pulang Basamo – Peserta wisata Pulang Basamo berfoto bareng di Homestay Sanjaya, Bukittinggi, Minggu (14/9/2025) pagi. Rombongan siap melanglang buana ke sejumlah destinasi eksotik di Sumatera Barat. (Ist/Edukasiindonesia.id)

Air Terjun di “Dasar Laut”

Lembah Harau menyimpan banyak pesona, baik keindahan alam, sejarah, maupun legenda.  Banyak yang meyakini Lembah Harau dulunya dasar lautan.

Fakta ilmiah tentang jenis batuan di sana menguatkan keyakinan itu. Tebing-tebingnya dari batuan breksi dan konglomerat, yang lazim ada di dasar laut. Juga banyak mengandung karbon organik dari sisa-sisa organisme. Konon, tebing batuan yang “memagari” Lembah Harau berusia 40 juta tahun.

Di kawasan Lembah Harau penginapan bertebaran di berbagai titik. Lembah Harau termasuk situs Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. Salah satu satwa langkanya ialah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Pesona alam lain Lembah Harau ialah enam pancuran air terjun. Yakni, Sarasah Aie Angek, Aie Luluih, Sarasah Jambu, Akar Berayun, Sarasah Bunta, dan Sarasah Murai. Setiap air terjun memiliki ciri khas dan tinggi yang bervariasi.

Sarasah Jambu ialah air terjun yang posisinya paling dekat dengan gerbang masuk dari arah Payakumbuh. Adapun Akar Berayun merupakan air tejun tertinggi yang masyhur. Ketinggiannya sekira 200 meter. Lokasinya dekat tempat parkir kendaraan pengunjung.

BACA JUGA:   Mahasiswa UI Rancang “Paman Sandi”, Inovasi Pembelajaran Sastra Interaktif

Pengunjung dapat juga trekking menelusuri jalan setapak menanjak di sisi tebing. Jalur trekking terhubung dengan kawasan Kelok 9, jalan raya penghubung wilayah Sumbar dan Riau nan memukau.

Lembah Harau menyimpan banyak pesona, baik keindahan alam, sejarah, maupun legenda. (Yayah Nuriyah/Edukasiindonesia.id)
Lembah Harau – Lembah Harau menyimpan banyak pesona, baik keindahan alam, sejarah, maupun legenda. (Yayah Nuriyah/Edukasiindonesia.id)

Sebelum ke Padang, Mampir ke Puncak Lawang

Setelah menginap dua malam di Bukittinggi, Senin (15/9/2025) pagi rombongan menuju Puncak Lawang. Ini hari ke-6 perjalanan rombongan Pulang Basamo.

Peserta tetap bersemangat, antusias, dan tidak menunjukkan rasa lelah. Mereka makin akrab. Komunikasinya makin cair. Baik di bus maupun di lokasi kunjungan wisata, selalu ada canda tawa. Kadang terselip olok-olok yang mengundang tawa, decak mulut, atau bikin geleng kepala.

Puncak Lawang merupakan destinasi wisata unggulan Kabupaten Agam. Lokasinya di Nagari Lawang, Kecamatan Matur. Objek wisata alam ini menawarkan pemandangan menawan Danau Maninjau di bawahnya. Ketinggiannya mencapai 1.210 meter di atas permukaan laut.

Di pagi hari, menapaki Puncak Lawang bagai memasuki “negeri di atas awan”. Di Puncak Lawang, pengunjung dapat mengikuti aktivitas outbound yang menantang. Misalnya, flying fox dan  paralayang.

Tempatnya asri dan berhawa sejuk. Pohon cemara mendominasi vegetasi di kawasan wisata alam ini. Di sana, tersedia area parkir, toilet, kafe, dan penginapan.

Puncak Lawang – Di pagi hari, menapaki Puncak Lawang bagai memasuki “negeri di atas awan”. (Ist/Edukasiindonesia.id)

Seperti Mimpi, Rindu Kampung Terobati

Puncak Lawang menjadi puncak perjalanan wisata Pulang Basamo keluarga besar Nilam Caya-Abdul Samad. Sebelum tengah hari, rombongan “pulang” ke Padang, menginap satu malam lagi.

Semua merasa happy. Rindu kampung halaman tanah leluhur terobati. Serasa meraih mimpi. Apalagi, hampir semua peserta baru mendapatkan kabar Pulang Basamo sekira sebulan sebelumnya.

BACA JUGA:   Kampus UPN "Veteran" Yogyakarta Gelar GCFoW 2021

“Benar-benar seperti mimpi. Saya bisa ikut Pulang Basamo bersama keluarga besar. Sebagian bahkan saya belum pernah bertemu tatap muka. Terima kasih Om Ucok, Om Adek, dan saudara-saudariku semua,” ungkap Nanda Novriandri penuh haru.

Ucok yang dia maksud ialah Aqua Dwipayana, bungsu dari lima bersaudara. Keluarga dekat dan teman sekolahnya di Pematang Siantar, Sumatera Utara, memangilnya Ucok.

Nanda adalah putra almarhumah Ana Pamelawati, kakak kandung Aqua dan Ikhsyat “Adek” Syukur. Aqua sponsor yang mendanai Pulang Basamo, sedangkan Adek motor penggerak panitia pelaksananya.

Pulang Basamo – Sebagian peserta Pulang Basamo saat berkunjung ke Jembatan Siti Nurbaya, Padang (16/9/2025). Serasa mimpi yang menjadi kenyataan.

Sangat Senang, Pertama Naik Pesawat

“Bidadari sangat senang sekali bisa melihat beberapa destinasi wisata yang sama sekali belum pernah dikunjunginya. Apalagi, pulangnya bisa naik pesawat,” kata Bidadari Kristeller, yang baru kali pertama naik pesawat.

Siswi kelas 7 SMP di Tangerang , Banten, itu adalah putri semata wayang Nova Kristeller-Yalla Sinasri. Nova adalah sepupu Aqua. Ibunda Nova, yakni Non Samad adalah kakak kandung Asmi Samad, ibunda Aqua.

“Terima kasih Om Adek, Om Ucok, Pak In serta semua Om dan Tante yang sudah plan dan merealisasikan Pulang Basamo ini. Acaranya happy dan berkesan banget,” ujar Fira Alfiazahra.

Pa In yang dia maksud adalah Indrawilis, motor lapangan panitia pelaksana Pulang Basamo.  Fira adalah putri kandung Alfianti-Zainal Prawiranegara. Alfianti alias Dedet adalah kakak kandung Nova.

Kembali ke Jakarta

Sebelum ke Bandara International Minangkabau (BIM) Padang Pariaman, rombongan sempat singgah makan siang di Pondok Makan Devi, Selasa (16/9/2025). Lokasinya di Kompleks Jondul, Parupuk, Tabing, Padang. Mereka memuaskan selera dengan aneka makanan-minuman yang nikmat. Seolah tidak mau melewatkan nikmatnya masakan khas Minang di tempat asalnya sebelum kembali ke Jakarta.

BACA JUGA:   Berbagi Kebahagiaan sebagai Esensi Silaturahim Idul Fitri

Sore itu, Bus wisata Sutan Raya harus berpisah dengan para penumpang yang keliling bersamanya sejak Jumat (12/9/2025) ke berbagai destinasi wisata. Tunai sudah tugas mengantar-jemput rombongan Pulang Basamo setiba di BIM. Para penumpang pun berterima kasih kepada Sopir Lembang dan Kenek Reza.

Sekira pukul 20.50 WIB, Pesawat Super Air Jet IU 903 mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Setelah mengambil bagasi dan berfoto bersama, rombongan berpencar. Kembali ke rumah masing-masing, di tanah rantau yang kini menjadi tempat domisili.

Kampung yang Selalu Bikin Rindu

Terngiang lagu “Kampuang Nan Jauh di Mato” karya Oslan Husein pada 1931. Saat wisata ke sejumlah destinasi, para pengamen mendendangkan lagu itu di Bus Sutan Raya.

Kampuang nan jauh di mato (Kampung yang jauh di mata)

Gunuang sansai bakuliliang (Dikelilingi banyak gunung)

Takana jo kawan-kawan nan lamo (Teringat kawan-kawan lama)

Sangkek den basuliang-suliang (Sewaktu bermain seruling)

Panduduknya nan elok (Penduduknya yang baik)

Nan suko bagotong-royong (Yang suka bergotong-royong)

Sakik sanang samo-samo diraso (Susah dan senang sama sama dirasakan)

Den takana jo kampuang (Kuteringat dengan kampung)

Takana jo kampuang (Teringat dengan kampung)

Induak ayah adiak sadonyo (Ibu, Ayah, adik dan semuanya)

Raso maimbau-imbau den pulang (Serasa memanggilku pulang)

Den takana jo kampuang (Kuteringat dengan kampung).

HABIS. (Nurcholis MA Basyari)

  • Share