SETELAH menginap satu malam dan sarapan, rombongan Pulang Basamo berziarah ke makam leluhur mereka, Non Samad, Jumat (12/9/2025).
Lokasinya di lereng tidak jauh dari rumah keluarga. Untuk menuju ke sana perlu perjuangan karena jalanan menanjak. Selain itu, harus melewati jalan becek karena malamnya hujan lebat.
“Mak Tuo Non Samad adalah kakak tertua ibu saya. Jasanya sangat besar pada keluarga kami. Beliau yang mengurus kakak-kakak saya saat mereka sekolah di Padang,” ujar Aqua Dwipayana.
Almarhumah ialah kakak kandung Asmi Samad, Ibunda Adek, Ibet, dan Aqua. Bunda Asmi juga punya tiga saudara kandung lagi, yakni Asri Samad (kakak) serta Asril Samad dan Irma Samad (adik).
Aqua yang menyeponsori mudik bareng keluarga Bungus itu. Bungsu lima bersaudara itu mengajak juga dua kakaknya. Mereka ialah Ihsyat “Adek” Syukur dan Ratna “Ibet” Bektiaty.
“Mama sangat baik mengurus saya dan ibunya Nanda (Ana Pamelawati) saat sekolah di Padang,” ungkap Adek mengenang masa sekolahnya di SMA N 2 Padang. Dia memanggil Mama kepada Non Samad dan Ibu untuk ibu kandungnya.
Nanda yang dia sebut tidak lain adalah putra almarhumah Ana Pamelawati, kakak kandung Adek. Nanda ikut dalam rombongan yang berangkat naik bus dari Jakarta.

Peserta Wisata Basamo Bertambah
Selanjutnya, mereka bertolak ke Pantai Mandeh, Pesisir Selatan (Pessel), naik bus wisata Sutan Raya. Bus berkapasitas 30 tempat duduk ini jadi “kendaraan resmi” selama di Sumbar.
Sopirnya bernama Lembang, sedangkan keneknya Reza. Mereka berdua cekatan mengawaki bus. Juga ramah dan ringan tangan melayani para penumpang.
Sebelumnya, peserta Pulang Basamo menempuh perjalanan darat dan laut Jakarta-Padang. Sebanyak 19 perempuan dan laki-laki naik Bus Al Hijrah K 7780 QC, Rabu-Kamis (10-11/9/2025).
Jumlah peserta bertambah dengan bergabungnya dua keluarga, yakni Afriani dan anaknya, Sultan. Selain itu, Sulastri dan tiga anaknya, yakni Rian, Farel, dan Justin Boy.
Panorama Raja Ampat Ranah Minang
Rombongan sempat singgah sholat Jumat di Masjid Akbar Baiturrahman Painan, Pessel. Lalu, makan siang di Pantai Carocok sebelum menuju Pantai Mandeh. Jalan menuju ke sana berkelok menurun dan mendaki cukup tajam. Melintasi perbukitan di sekelilingnya.
Pesona keindahannya menggoda rombongan untuk berfoto ria. Apalagi bagi yang suka selfie.
Maklum, panoramanya mirip-mirip Raja Ampat di Papua Barat Daya. Gugusan pulau-pulau kecil berbukit hijau bertebaran di sejumlah titik.
Rombongan kemudian menuju Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Di daerah perkebunan yang sejuk ini, rombongan menginap di Villa Kencana. Menjelang tengah malam rombongan tiba di vila dengan pemandangan eksotik itu.

Danau Diatas dan Danau Dibawah
Para tamu dapat menikmati pemandangan Danau Diatas atau Gunung Talang. Juga perbukitan dan hamparan tanaman holtikultura nan menyejukkan mata memandang. Apalagi sembari menyeruput kopi panas di balkon. Amboi… Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
Udara dingin mengiringi rombongan check out esok paginya (Sabtu, 13/9/2025). Agenda hari ke-4 ini ialah mengeksplorasi keindahan alam di sekitar Vila Kencana. Ya, ke mana lagi kalau bukan kawasan Danau Kembar.
Bus Sutan Raya setia mengantar rombongan mengelilingi tepian Danau Diatas, Danau Dibawah, dan Danau Talang. Lembang dan Reza bahu-membahu mengawaki bus melintasi jalan sempit nan menantang bertepi jurang. Terutama saat berpapasan dengan mobil lain.

Menikmati Kuliner di atas Danau Kembar
Rombongan sempat singgah sekira tiga jam di Mitra Resort, Nagari Batu Dalam, Kecamatan Danau Kembar, Kabupaten Solok. Di situ, ada kafe yang asyik buat nongkrong. Pengunjung bisa singgah di situ tanpa harus menjadi penghuni vila.
Mitra Resort berada di dataran tinggi. Posisi kafenya sedikit di atas jejeran vila dua lantai. Vila bertarif Rp1,8 juta per malam itu menghadap Danau Dibawah. Vila tersebut membelakangi kolam renang jernih yang berada di depan kafe.
Posisi kafe yang lebih tinggi membuat pengunjung dapat menikmati panorama Danau Diatas dan Danau Dibawah. Apalagi, ada sisi kafe di lantai dua yang berada di ruang terbuka. Juga ada rooftop di atas lantai dua. Hamparan kebun buah dan sayur di sekitarnya dapat memanjakan mata.
Di kafe, pengunjung dapat menikmati aneka minuman segar dan makanan yang yummy. Menu-menunya ala hotel berbintang, dengan sentuhan citarasa lokal yang menggugah selera. Spaghetti, misalnya, ada sentuhan citrasa rempah kuat yang bikin mie khas Italia itu makin nikmat.
Hawa sejuk dan panorama indah membuat pengunjung betah berlama-lama sembari kuliner di kafe dua lantai itu. Kafenya juga bersih dan tertata rapi. Demikian pula fasilitas lainnya, termasuk toilet. Parkirnya juga gratis.

Sebelum matahari beranjak ke atas ubun-ubun, rombongan bergerak menuju Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Tujuan utamanya tentu saja Istano Basa Pagaruyung alias Istana Besar Kerajaan Pagaruyung. Tiba di sana menjelang senja.
Replika Istana Pagaruyung
Bangunan bagonjong megah tiga lantai itu sesungguhnya hanya museum replika istana Kerajaan Pagaruyung. Letaknya di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, sekira 5 kilometer dari Batusangkar.
Istano Basa yang asli berada di atas bukit Batu Patah. Bangunan pusat kerajaan itu ludes terbakar pada 1804 saat pecah Perang Padri.
Istana Basa Pagaruyung berlantai tiga, dengan 72 tiang dan gonjong sebagaimana pada lazimnya Rumah Gadang. Di dalamnya terdapat lebih dari 100 replika furnitur dan artefak antik Minang.
Pada masa kerajaan dahulu, Lantai I sebagai area untuk menerima tamu kerajaan/kehormatan. Lantai II sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan. Adapun lantai paling atas untuk tempat penyimpanan harta benda dan alat kebesaran raja, seperti mahkota.

Nikmatnya Telur Barendo
Selepas maghrib, Bus Sutan Raya bergerak mengantar para penumpang “pulang” ke Homestay Sanjaya di Bukittinggi. Lokasinya di Kubu Gulai Bancah, Mandiangin Koto Selayan.
Hawa dingin Bukittinggi menjadi penyejuk ruangan alami. Jika merasa gerah, penghuni kamar bisa mengaktifkan kipas angin. Saat mandi, tidak perlu takut kedinginan karena ada keran air panas.
Sebelum menginap di sana, tepatlah jika mampir dulu santap malam di RM Gon Raya. Aneka menu makanan lezat khas Minang tersaji. Salah satu menu favorit ialah telur barendo.
Aroma, tekstur, dan tampilan telur dadar selebar piring nasi itu memang menggoda indera. Tampilannya sesuai namanya, barendo, yang artinya berenda. Seperti halnya merenda benang, memasak telur barendo juga perlu teknik khusus.
Jam Gadang dan Pasar Atas Bukittinggi
Esok paginya hingga tengah hari (Minggu, 14/9/2025), rombongan menjelajahi kawasan Jam Gadang, Pasar Atas, dan sekitarnya. Dari homestay, jaraknya sekira 2,5 km atau 5 menit berkendara.

Setelah foto bersama, peserta berhamburan. Ada yang duduk-duduk di bawah Jam gadang. Sebagian lainnya, berburu cenderamata dan oleh-oleh khas lainnya. Pasar Atas yang tidak jauh dari Jam Gadang jadi favorit emak-emak.
Beragam oleh-oleh khas Minangkabau ada di sana. Misalnya, kain sutra, katun, kerudung, mukena, baju koko, dan perhiasan. Ada juga aneka makanan, seperti kerupuk sanjai.
“Masyaa Allah, enak banget pisang kapiknya,” kata Retno Setiasih.
Istri Aqua itu memborong pisang geprek panggang khas Bukittinggi itu. Dia berbagi kelezatan pisang bertabur selai parutan kelapa dan gula aren itu saat ngopi di Saka Kafe & Resto. Rombongan Pulang Basamo bergabung di lantai 2 kafe tersebut. Termasuk Uni Anis, kerabat Aqua di Bukittinggi.
Dari ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (Desember 1948-Juni 1949) itu, tujuan selanjutnya terbagi dua. Retno dan putra semata wayangnya, Savero Karamiveta Dwipayana, bertolak ke Padang Pariaman. Mereka harus kembali ke Jakarta naik pesawat dari Bandara International Minangkabau (BIM). Rombongan selebihnya lanjut naik bus Sutan Raya menuju Payakumbuh. BERSAMBUNG…. (Nurcholis MA Basyari)










