JAYAPURA, edukasiindonesia.id – Dua putri asli Papua jebolan kampus di Amerika Serikat terpanggil “membayar utang” pada Bumi Cendrawasih. Mereka berdua mengkampanyekan gerakan berwirausaha di kalangan generasi muda Orang Asli Papua (OAP).
Dua pemudi asli Papua itu ialah Ruth Somisu dan Desi Esema. Kedua-duanya penerima beasiswa pendidikan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua. Masing-masing telah menyelesaikan studi di Western Michigan University (WMU) dan University of Alabama at Birmingham, Amerika Serikat, pada 2020.
Ruth berasal dari Tanah Merah, Kabupaten Jayapura. Dia menyelesaikan studi S1 jurusan Matematika di Universitas Kristen Corban, Oregon, Amerika Serikat (AS). Ruth lalu melanjutkan studi hingga lulus S2 Administrasi Bisnis di University of Alabama at Birmingham, AS.
Adapun Desi Esema berasal dari Yahukimo. Dia menyelesaikan kuliah S1 di Western Michigan University (WMU) jurusan Bisnis dan Operasi Pesawat.
Ruth dan Desi termasuk di antara ratusan putra/putri Papua yang menerima beasiswa kuliah di berbagai perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Beasiswa Pemprov Papua yang mulai bergulir pada 2014 itu berasal dari dana otonomi khusus. Sebagian besar yang ke luar negeri kuliah di sejumlah kampus di AS.
Revolusi Pola Pikir
Ruth dan Desi sadar betul tiga simpul yang berkait kelindan guna memajukan Papua dan masyarakatnya untuk mengejar ketertinggalan dari provinsi-provinsi lain yang lebih maju. Ketiga simpul itu ialah pendidikan, pemuda, dan wirausaha.
“Kami mengajak anak muda OAP untuk sama-sama maju,” kata Ruth, yang kini menjadi pengajar kelas bisnis dan bio kewirausahaan Sekolah Tinggi Bio Sains (STBS) Swadiri, Jayapura, Sabtu malam (11/6/2022).
Pemuda ialah cerminan potensi masa depan suatu masyarakat, bangsa, dan negara. Karena itu, tepatlah pilihan Ruth dan Desi menyasar anak-anak muda Papua dalam kampanye menumbuhkembangkan kewirausahaan. Bumi Cendrawasih butuh sentuhan disiplin wirausaha guna mengoptimalkan utilisasi kekayaan sumber daya yang ada bagi sebesar-besarnya kemajuan Papua dan kesejahteraan masyarakatnya.
Hanya, menurut Ruth, perlu ada revolusi mental guna mengubah pola pikir atau mindset generasi muda OAP. Selama ini, seperti juga sebagian masyarakat lain di luar Papua, kebanyakan anak muda OAP masih berpikir bahwa jalan untuk berkarya dan mengabdi ialah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), termasuk Polri, atau masuk TNI.
“Membangun Papua tidak harus menjadi PNS, karena saat ini peluang dan potensi ekonomi Papua di sektor swasta, wirausaha, sangat besar,” kata Ruth.
Garap Menggarap Anak Muda
Dia dan Desi kini bernaung di Gabungan Wirausaha Muda Papua (Garap). Bersama para pendiri dan mentor GARAP, mereka tengah berkampanye merangkul anak-anak muda Papua untuk bahu membahu membuka peluang usaha baru. Mereka berharap bermunculannya wirausaha muda di kalangan anak Papua yang mampu membuka peluang-peluang baru guna menggerakkan ekonomi provinsi di ujung timur Indonesia itu.
“Saya mendapat beasiswa tahun 2015. Sepuluh bulan ikut pembekalan dan pembinaan di Jakarta Internasional College (JIC) dan mulai masuk kuliah 2017 di Amerika dengan jurusan manajemen dan operasi penerbangan. Saat ini, bersama-sama kakak-kakak pendiri GARAP, kami mengedukasi anak-anak muda Papua untuk membuka peluang wirausaha,” ujar Desi.
Beasiswa Afirmatif bagi Anak Papua
Desi dan Ruth sama-sama merasakan betapa pentingnya pendidikan sebagai tangga “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagaimana amanah Founding Fathers dalam preambul UUD 1945. Pendidikan juga sebagai eskalator yang meninggikan harkat, martabat, dan derajat manusia dan kemanusiaan.
Kedua-duanya ingin agar anak-anak muda Papua merasakan apa mereka rasakan itu. Karena itulah kebijakan Gubernur Papua Lukas Enembe yang menaruh perhatian pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) asli Papua mereka apresiasi. Desi dan Ruth sama-sama berharap program beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa OAP terus bergulir sebagai kebijakan afirmatif.
“Program beasiswa ini sangat baik. Hari ini mungkin belum kelihatan, namun 10 tahun hingga 20 tahun dampaknya pasti positif,” ujar Ruth.
Menurut Ruth, program beasiswa itu wajib mendapat perhatian prioritas dari pemerintah pusat dan Pemprov Papua. Dia menilai program tersebut sangat membantu generasi muda Papua untuk dapat mengenyam pendidikan di berbagai jenjang studi, baik di dalam maupun luar negeri.
Menimba Ilmu dan Pengalaman Kuliah di Luar Negeri
Desi merasakan banyak ilmu dan pengalaman sebagai mahasiswa internasional dengan mendapat beasiswa dari Pemprov Papua dan kuliah di Amerika. Desi mengatakan dia bersama Ruth dan rekan-rekan mereka sesama penerima beasiswa asal Papua dididik oleh para ahli dan dosen luar negeri dengan disiplin tinggi.
“Sa (saya) dapat banyak hal dan pengalaman luar biasa saat kuliah di luar negeri. Selain ilmu pengetahuan, kami dapatkan pengalaman diajar para ahli dengan disiplin yang luar biasa. Sa minta program beasiswa bagi anak-anak OAP harus tetap dilanjutkan demi perubahan Tanah Papua,” kata Desi penuh harap.
Ruth dan Desi juga mengajak agar mahasiswa OAP di berbagai universitas di dalam negeri dan luar negeri bersungguh-sungguh kuliah dan tepat waktu. Selanjutnya, segera ke tanah air guna membangun dan memajukan Papua.
“Kesempatan kuliah hanya datang satu kali, jadi kami ajak adik-adik yang masih kuliah untuk fokus belajar supaya lulus tepat waktu dan kembali untuk bangun Papua,” ajak Ruth.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Papua Aryoko AF Rumaropen mengapresiasi para mahasiswa/i Papua yang menyelesaikan kuliah tepat waktu dan kembali ke Papua. Dia menyambut baik putra/putri terpelajar Papua itu membantu pemerintah membuka peluang-peluang usaha baru.
Aryoko menegaskan komitmen Pemprov Papua membangun SDM OAP demi masa depan Tanah Papua yang lebih maju.
“Bapak Gubernur Lukas Enembe memberi perhatian khusus untuk SDM Papua. Beliau sangat konsen membangun Papua melalui pendidikan,” kata Aryoko.











