TJ, Selamat Jalan Guru (Jurnalisme)

  • Share
Tri Juli Sukaryana selaku salah satu mentor Fellowship Jurnalisme Pendidikan yang diselenggarakan oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) tengah menyampaikan paparan pada Sabtu (9/4/2022). Itulah terakhir kali Tri Juli tampil berbicara secara daring kepada peserta FJP Batch IV GWPP yang dikomandoi Nurcholis MA Basyari. (Foto: GWPP)

Oleh: Dr Dudi Sabil Iskandar*

“Chelsea menang 1-0,” kata salah seorang reporter melaporkan setelah menonton Liga Inggris yang akan dijadikan berita untuk halaman satu Media Indonesia.

“Memangnya kenapa kalau Chelsea menang,” kata seorang pria bertubuh tinggi besar yang biasa dipanggil TJ.

Nama aslinya Tri Juli Sukaryana. Saat itu, sekira medio 2007, TJ menduduki posisi Asisten Redaktur Pelaksana Media Indonesia.

Pertanyaan TJ tersebut adalah pertanyaan jurnalisme interpretatif. Jurnalisme yang menafsirkan fakta oleh pakarnya. Dalam jurnalisme interpretatif, fakta hanyalah cantolan berita. Yang dibahas adalah penafsiran fakta temuan wartawan di lapangan.  Jurnalisme interpretatif adalah jurnalisme yang mencari core meaning atau makna inti dari suatu berita.

Merintis Jurnalisme Interpretatif

TJ memperkenalkan jurnalisme interpretatif di Media Indonesia dan Koran Jakarta dengan memberikan 14 karakteristik kunci.

  1. Harus mengerti isu yang ingin ditulis sebelum menulis berita atau apa yang dibicarakan narasumber. So, kita harus paham dulu masalahnya sebelum menulisnya. 
  2. Buatlah lead atau intro artikel yang memikat dan bisa jadi pengantar untuk pembaca supaya tertarik membaca lebih lanjut. Bisa dari judul film, potongan kata dalam novel terkenal atau kata-kata orang terkenal dll. e.g Hank Paulson, menteri keuangan AS, tengah belajar bahwa masalah yang datang ketika Anda memiliki bazooka di saku adalah bahwa Anda mungkin harus menggunakannya. Dia menggunakan bazooka sebagai analogi untuk menggambarkan senjata besar departemen keuangan yang bisa digunakan, jika diperlukan, untuk mendukung Fannie Mae dan Freddie Mac, AS terkepung raksasa hipotek, berkat sebuah undang-undang yang baru ditandatangani pada bulan Juli. (UU di sini diibaratkan penulis sebagai Bazooka) Atau : MENDUNG Rabu siang pekan lalu mengingatkan Bambang Ermayana pada peristiwa terpahit sepanjang hidupnya. Tahun lalu tiga hektare sawahnya puso dalam dua musim tanam. Petani dari Kecamatan Pabuaran, Subang, Jawa Barat, itu rugi Rp 42 juta. “Itu hasil terburuk sepanjang hidup saya,” katanya. Atau juga: Apa yang paling sulit diperbaiki dari bank yang sudah pernah kolaps? Jawaban yang paling mungkin adalah reputasi. Perbankan adalah bisnis kepercayaan, jadi persoalan citra dan reputasi merupakan elemen penting yang tidak terpisahkan.
  3. Buat skala. Caranya kita harus mengukur atau menghitung apakah hal tersebut pertama kalinya terjadi, tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir, terbesar di Indonesia dan lain-lain. membuat skala juga bisa menggunakan pendekatan yang lebih mudah buat pembaca. Misalnya luas hutan yang terbakar itu seluas empat kali lapangan sepakbola, atau banjir yang melanda Tebet sudah setinggi lutut orang dewasa. Kerugian yang dicapai perusahaan XYZ itu hampir setengah dari APBN Indonesia.
  4. Perluas cerita, misalnya dengan memberikan contoh-contoh yang lebih luas atau ada kejadian yang seperti itu di negara lain. Di sini kita harus memberi jawaban dari pertanyaan yang kira-kira muncul dari pembaca. E.g. apakah ini yang pernah terjadi sebelumnya (apa yang menarik dari kejadian-kejadian sebelumnya), apakah ini tren? lalu apa dampak dari kejadian atau isu yang kita tulis?
  5. Kutipan yang menarik. Jangan ambil semua materi wawancara untuk isi tulisan. Untuk kutipan, cukup ambil yang menguatkan kalimat tidak langsung. Kalimat tidak langsung seharusnya merupakan alur pikiran kita, si penulis.
  6. Berikan latar belakang (background) dari mana asal muasal masalah atau apa perkembangan sebelumnya karena banyak di antara pembaca adalah pembaca baru. Beri juga alasan kenapa fakta atau berita itu muncul. 
  7. Beri kuliah singkat dengan menerangkan sisi ilmiah. Sisi ini bisa diisi dengan menerangkan aturan formal seperti Undang-Undang, Peraturan, atau kamus. Bisa juga teori yang melandasi berita tersebut. Namun semua harus ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Misalnya: inflasi adalah kenaikan harga secara umum yang menjadi indikator penting ekonomi. Tetapi jangan terkesan memberi kuliah.
  8. Pastikan antarparagraf tidak saling menegasikan dan meninggalkan. Dengan kata lain harus ada kesinambungan. Jika ingin membuat penjelasan baru atau materi baru pada tulisan, upayakan adanya jembatan paragraf atau minimal kalimat sambung. Misalnya kalimat yang diawali dengan sementara itu, di sisi lain atau yang lainnya.
  9. Posisikan Anda sebagai pembaca jangan sebagai pembuat berita, dan jujur. Jika dinilai masih membingungkan berarti tulisan Anda masih perlu diperbaiki.
  10. Angka tidak menunjukkan apa-apa
  11. Implikasi dari peristiwa yang ditulis
  12. Down to earth atau menulis pada tataran yang teknis bukan menulis prinsip-prinsip umum yang normatif dan semua koran sama. Misalnya, pengakuan seorang tersangka korupsi ketika ditanya wartawan pasti menjawab tidak terlibat. Nah, tugas wartawan adalah menulis indikasi yang menunjukkan dia terlibat.
  13. Pastikan ada core meaning (makna inti) yang akan menghasilkan public meaning (makna untuk publik) yang ingin disampaikan dalam sebuah berita yang kita buat.
  14. Baca lagi tulisan yang sudah jadi atau selesai.

Membangun Koran Gaya Baru

Bergaul dengan TJ sekitar tujuh tahun di Media Indonesia. Di awal 2008, bersama beberapa kawan, saya ikut TJ membangun Koran Jakarta.

“Dud, tulis editorial untuk edisi perdana kita,” kata TJ, “28 April 2008.”

Setahun berselang, TJ mengatakan hal yang sama.  “Tulis lagi editorial untuk edisi setahun koran kita,” ujar TJ lagi.

Berkiprah di Koran Jakarta sebagai wakil pemimpin redaksi, TJ membimbing saya dan puluhan wartawan dalam berbagai level (reporter, asisten redaktur, redaktur, termasuk fotografer dalam menulis caption foto yang menarik pembaca)

Setiap pagi dan sore kami berkumpul di ruang redaksi untuk merumuskan isi Koran Jakarta melalui rapat budget (sore hari) dan proyeksi (pagi hari). TJ-lah yang setiap hari memimpin rapat dan mengarahkan konstruksi berita. Meski dalam beberapa kesempatan digantikan oleh yang lain. Namun, secara umum TJ lah yang memformat dan mengarahkan serta membingkai berita Koran Jakarta. Di ruang redaksilah kami berdebat tentang berita yang akan disajikan esok hari ke pembaca. Inilah bentuk independensi media.

Korban Office Politicking

Satu pengalaman yang paling menarik adalah Koran Jakarta di awal-awal terkenal sebagai koran BBM (Bahan Bakar Minyak). Kebetulan ketika awal-awal terbit isu yang sedang seksi adalah kenaikan harga BBM.

Nyaris selama tiga bulan headline Koran Jakarta adalah tentang kenaikan harga BBM. Melalui jurnalisme interpretatif, TJ dan kru redaksi membahas kenaikan BBM dari berbagai perspektif; beragam angle berita. Inilah keunggulan jurnalisme interpretatif. Tampaknya sampai saat ini tidak ada yang bisa memecahkan rekor Koran Jakarta dalam membahas kenaikan harga BBM. Nyaris tiga bulan. Sesuatu yang sulit dicari tandingannya oleh media mana pun hingga kini. Dan, TJ aktor intelektualnya

Hampir dua tahun bergaul dengan TJ membesarkan Koran Jakarta. Saya dan beberapa teman tidak lagi koran tersebut, tiba-tiba mendengar kabar TJ juga resign dari Koran Jakarta.

“Ada surat ke owner yang mengatakan saya hayang jadi Pemred (Koran Jakarta). Teuing bener, teuing heunteu surat eta teh, saya ge teu apal” ujar TJ suatu saat ketika ditanya alasannya mundur. “Kunaon babaturan saya dikaluarkeun ti Koran Jakarta?”

Konsultansi Jurnal Internasional

Setelah keluar dari Koran Jakarta, 2010, agak jarang kontak dengan TJ. Terkadang kirim pesan menanyakan kabar masing-masing. “Amu meninggal, Dud,” “Pak Yadi meninggal, Dud,” atau mengabarkan teman yang lain yang wafat. Itulah pesan kemanusiaan TJ melalui telepon seluler dalam beberapa kesempatan ketika teman-teman di Koran Jakarta meninggal dunia, beberapa tahun silam.

Komunikasi terus jalan mesti hanya say hello melalui telepon selular yang kian canggih. Kami terus berkomunikasi meski tidak seintens ketika bersama di Media Indonesia  dan Koran Jakarta. Setelah saya berkiprah sebagai dosen di Universitas Budi Luhur, komunikasi dengan TJ berlanjut. Hanya saja berkaitan dengan tulisan dalam bahasa Inggris yang memang sangat dikuasai TJ. Berulang kali TJ memperbaiki tulisan bahasa Inggris saya yang akan dikirim ke jurnal internasional.

“Dud, salah tah bahasa Inggrisna. Kuduna kieu…’” kata TJ suatu saat setelah membaca status Whatsappku.

“Nuhun, Kang,” balasku singkat. Setelah itu berulang kali saya konsultasi tentang bahasa Inggris tulisan yang akan dikirim ke jurnal internasional.

Kabar Sakit

Oktober tahun silam, sebuah pesan masuk ke telepon seluler. “TJ sakit. Sekarang ada di rumahnya di Cibinong.”

Pesan itu datang dari Nurcholish MA Basyari, sahabat paling karib TJ sejak di Media Indonesia dan Koran Jakarta, hingga akhir hayatnya.

Bersama Hasbunal Arief, saya menengok TJ di rumahnya. Kondisi masih cukup bagus meski TJ tetap berbaring di tempat tidur. Kesadarannya masih penuh. Hanya saja jari-jari tangannya kaku tidak bisa digerakkan termasuk untuk mengetik pesan di telepon seluler.

Nuhun, Dud, ditengok,” katanya pendek ketika bertemu di kamar tidurnya.

“Dud, kirim buku Jurnalisme Dasar-nya, saya hayang maca,” kata TJ suatu waktu ketika membaca status WA saya beberapa waktu lalu.

“Siap. Komandan. Laksanakan! “ balasku bercanda. Besoknya saya langsung paketkan buku permintaannya.

Beberapa hari kemudian, pesan masuk dari TJ. “Nuhun, Dud, buku tos katampi.”

Tergolek di Rumah sakit

Kamis, 9 Juni 2022, Nurcholish kembali mengirimkan pesan. “TJ dirawat di RSUD Ciawi.” Seketika ingatan langsung ke sosok yang terbaring ketika pertama kali menengok enam bulan silam.

Secepat kilat mencari teman untuk menengok TJ. Beberapa teman yang dihubungi sedang sibuk. Akhirnya bertemu teman Adiyanto yang punya waktu untuk menjenguk TJ di RSUD Ciawi.

Sabtu, 11 Juni, bersama Hotma, sesama alumni Media Indonesia, kami bertiga menuju tempat TJ dirawat. Setelah bertemu, kami hanya mengobrol sedikit saja. Kondisi TJ yang sudah parah; sudah enam kali cuci darah dan akan terus cuci darah.

“Virus penyakitnya sudah masuk jantung, lambung, dan ginjal. Paru-parunya tertutup putih,” kata kakak perempuan TJ yang sedang menungguinya.

Sekitar 30 menit kami menengok TJ di RSUD Ciawi. “Doakeun, ya, Dud,” kata TJ ketika tangan kami saling menggenggam.

Sing enggal damang, Kang,” balasku.

Kabar Duka

 Jumat, 17 Juni. Seperti biasa setiap pagi berada di depan komputer untuk sekadar memeriksa email atau mengetik yang ada di kepala. Kadang-kadang menulis untuk artikel di koran, jurnal, atau buku. Telepon seluler ada di samping. Begitu membuka pesan.

“Innalillahi, teman kita, TJ meninggal dunia.” Begitu bunyi salah satu pesan di grup alumni Media Indonesia dan Koran Jakarta.

Tanpa berpikir panjang, komputer langsung dimatikan. Minta istri untuk memasukkan baju dan sarapan ke tas kerja. “Ayah mau takziyah ke Cibinong. TJ meninggal,” kataku kepada istri yang juga ikut berduka karena sering mendengar ceritaku tentang TJ selama di Media Indonesia dan Koran Jakarta.

Memilih naik motor daripada mobil dan kereta api menuju Cibinong. Pukul 05.30 WIB langsung ngebut menuju rumah duka. Sekitar pukul 07.30 WIB sampai di masjid tempat jenazah TJ disholatkan warga dan teman-temannya. Bertemu dengan senior di Media Indonesia, Pak Nazir Amin, Yayah Hidayat, dan Heru Prasetyo. Kami mengobrol panjang tentang kenangan tentang TJ. Selamat jalan guru jurnalisme…

*Penulis ialah kini dosen Universitas Budi Luhur Jakarta

  • Share
Exit mobile version