Empat Pilar CSR Tower Bersama Group ini Patut Jadi Rujukan

  • Share

JAKARTA, edukasiindonesia.id – Program Corporate Social Responsibility (CSR) Tower Bersama Group (TBIG) berbasis landasan filosofis membangun nilai-nilai bersama (shared values).

Lie Si An menjelaskan CSR TBIG berbasis kesadaran filosofis untuk bergotong-royong bersama bagi Indonesia. Adapun misinya ialah membangun nilai bersama melalui kontribusi sosial dan lingkungan. 

“CSR itu perlu passion, panggilan hati untuk membuat masyarakat atau orang lain menjadi lebih baik. Agar bisa sustain (bertahan), kegiatan CSR itu bersifat empowering, memberdayakan. Program CSR mendapat trust (kepercayaan) dan dukungan manajemen karena memberi manfaat. Bukan hanya bagi korporasi (TBIG) melainkan juga publik dan lingkungan,” ujar Lie Si An di depan para peserta pelatihan jurnalistik JFC GWPP 2025 baru-baru ini. 

CSR Pilar Kesehatan dan Penanggulangan Stunting

Klinik TBIG – Tim Bangun Sehat Bersama TBIG memberikan pelayanan kesehatan berupa edukasi hidup sehat dan bantuan makanan bergizi di Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (5/5/2025).

TBIG melaksanakan kegiatan CSR pada empat pilar atau bidang. Pertama, pilar kesehatan melalui program Bangun Sehat Bersama. TBIG memberikan akses pelayanan kesehatan gratis dan penanggulangan stunting melalui Mobil Klinik (Monik) TBIG. Monik TBIG juga mengemban misi bantuan kemanusiaan penanggulangan bencana. 

“TBIG mengoperasikan enam Monik yang telah memberi manfaat kepada 127.529 warga 139 kabupaten/kota di 24 provinsi,” papar Pak Si An, panggilan akrab pria asal Semarang, Jawa Tengah, itu.

CSR Pilar Pendidikan: Kurikulum Unggulan SMK

Kunjungan SMK – Anggota Tim TBIG menjelaskan teknis jaringan fiber optic to the home (FTTH) kepada siswa dan guru SMK, Jumat (2/5/2025). Hari itu, siswa bersama guru pendamping SMK Telkom 1 Lampung dan SMK NU Ciamis, Jawa Barat, berkunjung ke Rumah Belajar TBIG.

Kedua, pilar pendidikan melalui program Bangun Cerdas Bersama. TBIG mengembangkan Kurikulum Unggulan untuk para guru dan siswa SMK. Tujuannya ialah meningkatkan  aksesibilitas dan kualitas pendidikan kejuruan di Indonesia. Guru dan siswa SMK TBIG memberikan pelatihan praktik dan teori tentang fiber optik dan fiber optic to the home (FTTH). Pelatihan ini melibatkan tenaga ahli dari internal perusahaan. Sebanyak 50 guru dan 1.211 siswa dari 31 SMK di sembilan provinsi telah mengikuti program ini. 

“Sebanyak 45 dari 83 siswa magang program ini terserap sebagai tenaga kerja di perusahaan mitra TBIG,“ papar Lie Si An. 

Rumah Batik dan Kaum Difabel Binaannya

Ketiga, pilar budaya melalui program Bangun Budaya Bersama. Pilar ini sebagai inisiatif pengembangan komunitas berbasis produk budaya dengan koperasi sebagai platformnya. Program ini ada di tiga kota Jawa Tengah, yakni Pekalongan, Semarang, dan Solo. Koperasi dan Rumah Batik TBiG berkolaborasi dan bersinergi memberdayakan para pengusaha mikro industri batik dan kuliner. Pelaku UMKM itu mendapatkan pelatihan teknis, keterampilan manajemen, bantuan modal, dan distribusi produk untuk meningkatkan produktivitas bisnis. 

Terakhir, pilar lingkungan bertajuk Bangun Hijau Bersama. Dua program menjadi penopang utama pilar ini, yaitu pengelolaan botol plastik dan pengurangan jejak karbon. Hasilnya, terkumpul 33.831 botol plastik bekas dan menghasilkan 429 produk upcycle. Produk seperti tas sepatu, tas raket, totebag, dan pouch bag itu hasil karya siswa difabel binaan Rumah Batik TBIG Pekalongan. Lahan seluas 55 hektare tertanami dan jumlah penyerapan karbon (CO2) mencapai 3,3 ton. Jumlah anggota masyarakat yang terdampak mencapai 10.904 orang. 

  • Share
Exit mobile version