Kiat Menulis Features: Ringan dan Enak Dibaca (Bagian ke-2)

  • Share

Oleh: Mohammad Nasir*

Edukasiindonesia.id -MENGGUNAKAN gaya bertutur dalam feature memerlukan kepandaian bercerita, dan memformulasikan kata-kata untuk menyampaikan esensi pesan berita, bukan hanya memindahkan kalimat-kalimat yang diucapkan sumber atau orang yang diwawancarai.  

Kalau dalam tulisan perlu kutipan langsung dari orang yang penulis wawancarai, silakan saja kalau itu dapat mengihidupkan cerita. Silakan tempatkan pada alur cerita yang tepat.

Dengan cara seperti itu, penulis seperti sedang bercerita langsung pada pembaca. Ceritanya akan mengalir, dramatik, enak dibaca, renyah, dan ringan.

Di kalangan wartawan feature dianalogikan makanan ringan, sebagai selingan.

Karena itu gunakan bahasa sederhana, kalimatnya tidak beranak-pinak.

Paragrapnya juga jangan panjang-panjang, cukup dua alenia, terutama ketika tulisan untuk media online yang kemudian dibaca di layar sempit pada gadget atau smartphone.

Gunakan kata kerja aktif, dengan awalan “me” supaya tulisan terasa hidup. Ini kebalikan dengan yang digunakan dalam penulisan ilmiah yang banyak menggunakan kata kerja pasif (berawalan “di”).

Hindari Penggunaan Kata Sifat

Hindarkan penggunaan kata sifat kecuali kita menunjukkan fakta-faktanya secara memadai. Lebih baik mengganti kata sifat dengan kata kerja dan kata benda yang jelas.

Misalnya kata sifat “kaya”, diganti dengan kata “memiliki 10 rumah, dan memiliki tiga mobil masing-masing seharga di atas Rp5 miliar”, kata “cantik”, diganti dengan kata-kata yang sudah umum dipahami masyarakat, misalnya “hidung mancung, rambutnya berombak”, dan seterusnya. Ini untuk menghindari opini dari penulis.  

Sejumlah kata sifat yang perlu dihindari antara lain, baik, luar biasa, cantik, indah, ramah, mudah, sulit, kotor, segar, buruk, murah, mahal, besar, kecil.

“Ketika kamu menggunakan kata sifat, kamu akan berisiko menyelipkan opinimu ke dalam cerita,” kata Carole Rich dalam bukunya Writing and Reporting News, A Coaching Methode (Wadsworth Chengage Learning, 2010).

Wartawan tidak boleh menulis opininya sendiri. Wartawan hanya melaporkan kejadian, dengan keadaan apa adanya dengan sudut pandang yang menarik. (BERSAMBUNG….)

*Penulis ialah Sekretaris Jenderal Serikat Media Siber Indonesia, dan Penguji Uji Kompetensi Wartawan). Materi ini disampaikan penulis selaku pengajar dan mentor pada sesi mentoring peserta Fellowship Jurnalisme Pendidikan Angkatan IV yang diselenggarakan oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan, pada 16 Mei 2022.

  • Share
Exit mobile version